Home / Artikel / Seuntai Do’a dalam Sholat

Seuntai Do’a dalam Sholat

Pada saat kita melaksanakan sahalat, kita sering kali melaksanakannya sebagai suatu rutinitas biasa, bahkan ada yang asal-asalan, alias asal gugur kewajibannya. Ini semua berpangkal dari sikap hamba yang merasa shalat itu hanyalah beban, tanpa makna positif, dan jauh dari kata menikmati indahnya syariat yang diperintahkan Allah swt.

Catatan penting bagi kita sebagai pelaku shalat adalah masalah pemahaman, penghayatan dan keikhlasan. Hendaklah setiap insan yang menjalankan perintah Allah ini, tidak lalai di saat shalat. Lalai karena kosong dari makna shalatnya dan kosong dari ma’iyatullah ( rasa bersama Allah swt)
Pertanyaan pertama yang mendasar dan penting untuk kita adalah : sudah pahamkah kita apa isi dalam shalat kita? Kita harus jujur, banyak dari kita yang tidak paham bacaan shalat, belum paham makna ayat yang kita baca dalam shalat dan lain sebagainya.
Ambil contoh saat kita membaca surat wajib, al-fatihah – ayat ke lima.Di dalamnya ada ayat permohonan kita “ Ihdinass-shirotol mustaqim” (tunjukilah kami ke jalan yang lurus) “Shirotholladzina an’amta alaihim” (yaitu jalan orang yang Kau beri nikmat atas mereka)
Ayat ini sesungguhnya masih nakiroh alias masih umum, belum spesifik. Orang yang diberi nikmat Allah itu seperti apa? Apakah orang kaya, ataukah orang yang rumahnya mewah, sawahnya luas, isterinya cantik-cantik, uangnya banyak, mobilnya selalu baru- mulus mengkilat, jabatannya tinggi setingkat menteri, atau nikmat seperti apa yang kita minta?

Saat kita membaca ayat ini sebenarnya kita sedang meminta sesuatu yang indah kepada Allah, namun kita belum jelas yang mana yang kita minta. Ini masalah penting, Sebab jangan- jangan kita salah arah dalam meminta kepada Allah swt. dalam shalat kita setiap hari, setiap waktu. Awas! hati hati!… kalau sampai salah arah kita bisa celaka.
Kalau Anda bertanya, “ lalu seperti apa seharusnya yang kita minta?”…” Adakah panduan Allah mengenai isi doa kita itu dalam alquran?” Silahkan simak penjelasan saya berikut ini..
Maksud Firman Allah swt. dari ayat “ sirothol ladzina an’amta alayhim” (jalan orang2 yang kau beri nikmat atas mereka) sebenarnya dapat kita temui pada ayat lain dalam quran. Di dalam surat an-nisa ayat 69 disebutkan yang artinya :” Orang yang taat kepada Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang yang diberi nikmat Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.”

Dengan demikian kita paham bahwa nikmat yang dimaksud bukan nikmat duniawi apalagi yang bersifat mewah, glamour dan materialistis ( Harta- Tahta- wanita). Nikmat yang dimaksud Allah swt dalam surat al-fatihah adalah nikmat hakiki, nikmat yang agung, nikmat yang abadi.
Betapa banyak contoh dan teladan hidup para nabi dan sahabatnya yang kaya, miskin, maupun yang sedang sedang saja. Ada Nabi yang super kaya, Nabi Sulaiman a.s, dan ada nabi yang sangat miskin harta, Nabi Isa a.s.contohnya. Nabi kita tercinta , Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi yang hidup sederhana. Meskipun dari keluarga kaya keturunan bangsawan, beliau hidup amat sederhana. Meskipun berbeda-beda, namun tetap satu jua. Semua nabi dan rasul adalah orang-orang yang taat pada Allah swt., dan para pengikut nabi adalah orang yang taat kepada nabi-Nya. Itulah sebabnya, mereka semua pantas mendapat kenikmatan abadi di surga, nikmat agung yang telah Allah janjikan kepada mereka.
Semoga dengan tambahan pemahaman, kita dapat mencapai derajat yang lebih baik lagi dalam melaksanakan ibadah, khususnya shalat kita.
Dan semoga tulisan kecil ini bisa bermanfaat untuk kita semua, aamiin.
Wallahu a’lam bis-shawab…wassalamu alaikum wr.wb.

Ahmad Faozi,S.S
Guru kelas 4 SIT MI BINA AMANAH

About admin

Check Also

Belum Cukup Bekal ,,,

Sidapurna, 17 Oktober 2019 Semangat belum cukup untuk memenangkan pertandingan. Itu lah yang terjadi pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *