Home / Artikel / Imam Syafii – part 2

Imam Syafii – part 2

Biografi Imam Syafi’i – part 2

Guru-guru Imam Syafi’i

1.       Muslim bin Khalid Az-Zanji, Mufti Makkah tahun 180 H yang bertepatan dengan tahun 796 M, ia adalah maula (budak) Bani Makhzum.

2.       Sufyan bin Uyainah Al Hilali yang berada di Makkah, ia adalah salah seorang yang terkenal ke-tsiqah-annya (jujur dan adil).

3.       Ibrahim bin Yahya, salah seorang ulama Madinah.

4.       Malik bin Anas. Syafi’i pernah membaca kitab Al Muwaththa’ kepada Imam Malik setelah ia menghafalnya di luar kepala, kemudian ia menetap di Madinah sampai Imam Malik wafat tahun 179 H, bertepatan dengan tahun 795 M.

5.       Waki’ bin Jarrah bin Malih Al Kufi

6.       Hammad bin Usamah Al Hasyimi Al Kufi

7.       Abdul Wahhab bin Abdul Majid Al Bashri

Istri Imam Syafi’i

Ia menikah dengan Hamidah binti Nafi’ bin Unaisah bin Amru bin Utsman bin Affan.

Kelebihan Imam Syafi’i serta Pujian Ulama Terhadapnya

Keluasan ilmu pengetahuan dalam hal adab (sastra) dan nasab, yang setara dengan Al Hakam bin Abdul Muthalib. Rasul SAW bersabda, “Hanya saja Bani Hasyim dan Bani Muthalib sama. ” HR.Ibnu Majah, pembahasan tentang wasiat, bab “Qismah Al Khumus”, hadits No. 2329′

Kekuatan menghafal Al Qur’an dan kedalaman pemahaman antara yang wajib dan sunah, serta kecerdasan terhadap seluruh disiplin ilmu yang ia miliki, yang tidak semua manusia dapat melakukannya.

Kedalaman ilmu tentang Sunnah, ia dapat membedakan antara Sunnah yarig shahih dan yang dha’if. Serta ketinggian ilmunya dalam hal ushul, mursal, maushul, serta perbedaan antara lafazh yang umum dan yang khusus.

Imam Ahmad bin Hambal berkata, Para ahli hadits {ashabul hadits) yang dipakai oleh Abu Hanifah tidak diperdebatkan sehingga kami bertemu dengan Imam Syafi’i. Ia adalah manusia yang paling memahami kitab Allah Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul SAW, serta sangat peduli terhadap hadits beliau.”

Karabisy berkata, “Imam Syafi’i adalah rahmat bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Dubaisan berkata, “Saya pernah bersama Ahmad bin Hambal di Masjid Jami’ yang berada di kota Baghdad, yang dibangun oleh Manshur, kemudian saya datang kepada Husain (Karabisy) lalu bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu tentang Syafi’i?’ Dia mengatakan, ‘Seperti apa yang saya katakan bahwa ia memulai dengan Kitab (Al Qur’an), Sunnah dan Ittifaq. Kami dan orang-orang terdahulu sebelum dia tidak mengetahui apa itu Kitab dan Sunnah, hingga kami mendengar dari Imam Syafi’i tentang Kitab, Sunnah dan Ijma’.”

Humaidi berkata, “Kami pernah ingin mendebat pengikut rasionalis (aliran yang mengedepankan rasio dalam segala urusan), tetapi kami tidak mengetahui bagaimana cara untuk mengalahkannya. Lalu Imam Syafi’i datang kepada kami, sehingga kami dapat memenangkan perdebatan.”

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih fakih terhadap Kitab Allah daripada pemuda Quraisy ini, ia adalah Muhammad bin Idris Syafi’i.”

Ibnu Rahawaih pernah ditanya, “Menurut pendapatmu, bagaimanakah Imam Syafi’i dapat menguasai kitab ini dalam usia yang masih belia?” Ia menjawab, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mempercepat akalnya karena umurnya yang pendek.”

Rabi’i berkata, “Kami pernah duduk di majelis Syafi’i setelah beliau meninggal dunia di Basir, tiba- tiba datang kepada kami seorang Arab badui. Ia mengucapkan salam lalu bertanya, ‘Di manakah bulan dan matahari majelis ini?’ Kami menjawab, ‘Beliau telah wafat’. Tiba-tiba ia menangis lalu berkata, ‘Semoga Allah merahmatinya dan mengampuni dosa-dosanya. Sungguh beliau telah menyingkap hujjah yang tertutup, telah merubah wajah orang-orang yang ingkar dan juga telah membuka kedok mereka, serta telah membuka pintu kebodohan dengan penjelasannya’. Kemudian Arab badui itu beranjak pergi.”

via @Kitab Al-Umm Android App

About admin

Check Also

Belum Cukup Bekal ,,,

Sidapurna, 17 Oktober 2019 Semangat belum cukup untuk memenangkan pertandingan. Itu lah yang terjadi pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *